05 Maret 2009

Bagian XI

Perjalanan Pulang & Pembunuhan Agamemnon

Kini perjuangan panjang pasukan Achaean berbuah kemenangan, dan janji Jupiter telah terpenuhi. Pasukan Achaean telah kehilangan banyak prajurit dalam perang yang amat panjang itu, namun mereka telah menaklukan Troy, membawa seluruh harta kekayaan kota Troy ke kapal-kapal mereka. Sekarang, para prajurit sudah tidak sabar untuk segera berlayar pulang ke negeri mereka masing-masing, bertemu kembali dengan keluarga dan kerabat setelah sepuluh tahun berperang di Troy. Namun ternyata para dewa berkehendak lain. Tidak semua prajurit ternyata ditakdirkan selamat dalam perjalanan pulang, sebagian dari mereka mati di tengah perjalanan pulang, dan sebagian lagi tersesat ke negeri-negeri asing.

Minerva sangat marah kepada pasukan Achean ketika mereka membakar kota dan lupa diri. Tidak kuasa menahan kegembiraan, para prajurit Achaean lupa jika kuil-kuil adalah tempat suci. Mereka merusak dan membakarnya, dan bahkan Ajax putra Oileus memperkosa Cassandra, putri Priam, yang sedang berlindung di kuil Minerva, sementara prajurit Achaean yang lainnya tidak menghentikannya.

Minerva sangat marah. Ia kemudian menghadap Neptune dan memintanya untuk mempersulit perjalan pulang pasukan Achaean, dan bahkan sebagian besar prajurit tidak ditakdirkan pulang ke negerinya, binasa di tengah laut.

Sebelum berlayar pulang, terjadi perpecahan dalam pasukan Achaean, ada yang ingin segera berlayar pulang dan ada yang ingin perjalanan pulang ditunda, menunggu kemarahan minerva reda. Agamemnon termasuk yang ingin perjalanan pulang ditunda, dan segera memberi persembahan kepada dewi Minerva. Namun tidak semua komandan sependapat dengan Agamemnon. Menelaus termasuk yang menentangnya, dan ia memutuskan segera berlayar pulang tanpa menunggu esok hari.

Kapal Menelaus tersesat hingga ke Mesir. Berikut ini adalah petikan yang diambil dari percakapannya dengan Telemachus, putra Ulysses, ketika Menelaus mengisahkan perjalanan pulangnya kepada Telemachus. Kedatangan Telemachus ke istana Menelaus adalah untuk mencari kabar ayahnya yang belum juga pulang semenjak kepergiannya ke Troy:

“Ketika aku sangat ingin menginjakan kaki di negeriku, dewa menahanku di Mesir karena aku tidak memberi mereka persembahan sebelumnya. Dewa telah menetapkan bawah manusia harus selalu ingat akan kewajibannya. Di laut terbuka sebelum Mesir, ada sebuah pulau yang disebut Pharos. Di pulau itu ada pelabuhan yang sering disinggahi para pelaut untuk meminum air segar sebelum melanjutkan kembali perjalanan. Aku tertahan di pulau itu selama dua puluh hari; angin di atas laut sedang tidak baik untuk berlayar. Seandainya seorang peri tidak mengasihani dan menyelamatkanku, maka semua perbekalan kami akan habis dan semangatku dan anak buahku akan jatuh. Ia adalah Eidothea, putri Kakek Penjaga Laut (The Old Man of the Sea), Proteus.

“Hatinya pasti tersentuh ketika ia melihatku mengembara sendirian tanpa anak buahku; mereka
biasa memancing ikan semenjak perbekalan makanan kami menipis. Ia mendekatiku dan berkata, ‘Orang asing, apakah kau adalah manusia bodoh, lamban dan malas? Ataukah kau menikmati penderitaanmu? Sekarang kau terjebak di pulau ini dan belum menemukan jalan keluar, sementara kondisi fisik dan mental anak buahmu semakin menurun.’

“Aku menjawab, ‘Aku tidak ingin terjebak di pulau ini, tapi sepertinya aku telah membuat marah
dewa. Sekarang katakanlah sejujurnya, dewa manakah yang telah menahanku di pulau ini, bagaimana caranya aku menemukan jalan pulang?’ Ia menjawab, ‘Baiklah, aku akan membantumu. Tempat ini sering dikunjungi oleh Proteus, Kakek Penjaga Laut, yang selalu berkata jujur. Ia mengetahui seluk beluk lautan sekalipun yang paling dalam. Mereka bilang aku adalah putrinya. Jika kau dapat menemuinya, ia akan membantumu menemukan jalan keluar.’

“Aku menjawab, ‘Apa yang harus kulakukan? Apa ia yang akan melihatku terlebih dahulu?’

“Ia menjawab, ‘Ketika matahari tepat di tengah langit, ia akan keluar dari dalam laut dan beristirahat di guanya. Di sekitarnya tidur sekawanan anjing laut, anak-anak Halosydne. Aku akan membawamu ke sana, dan kau harus membawa tiga orang prajuritmu yang terbaik. Sekarang aku akan memberitahumu mengenai tipu dayanya. Pertama, ia akan memeriksa anjing-anjing lautnya dan menghitung jumlah mereka. Setelah mengenali mereka semua, ia akan tidur di tengah-tengah mereka, seperti seorang gembala di tengah-tengah hewan ternaknya. Setelah kau melihatnya setengah pulas, segera tangkap dan kalian harus menahannya dengan seluruh tenaga kalian, sekalipun ia melawan. Akan berubah wujud menjadi bentuk apa saja yang ia inginkan untuk melawan kalian. Namun kalian harus tetap sekuat tenaga menahannya agar tidak terlepas. Ketika wujudnya sudah kembali normal, lepaskan ikatan kalian, karena ia sudah menyerah. Kemudian bertanyalah kepada Proteus, dewa manakah yang marah terhadapmu, dan bagaimana caranya kau bisa menemukan jalan pulang ke negerimu.’

“Setelah itu ia menghilang begitu saja ke dalam laut. Aku segera kembali ke kapal dan tidak lama
kemudian matahari tenggelam dan kami tidur di pantai.

“Ketika fajar menyingsing, aku bersama tiga anak buahku segera menuju pantai dan menunggu kedatangan Eidothea.

“Tidak lama kemudian Eidothea datang, membawa empat kulit anjing laut berukuran besar. Kulit-kulit anjing laut itu adalah muslihat akan akan kami pakai agar bisa bertemu dengan ayahnya. Eidothea mengantarkan kami ke tempat yang dapat mempertemukan kami dengan Proteus dan meminta aku dan tiga prajuritku berbaring saling berdekatan. Setelah itu ia menutupi tubuh kami dengan masing-masing kulit anjing laut yang dibawanya. Hanya cara itu yang mungkin dilakukan agar bisa bertemu dengan Proteus.

“Kami menunggu kedatangan Proteus sepanjang pagi itu, hingga akhirnya anjing-anjing laut kesatangan muncul dari laut. Mereka kemudian tidur berjejer di sekitar kami, dan tepat di tengah hari Proteus muncul dari dalam laut. Proteus kini berjalan mengelilingi kawanan anjing laut kesayangannya dan menghitung jumlah mereka, dan ia menghitung kami tanpa curiga. Setelah berbaring diantara anjing-anjing laut laut, kami bangkit dan menangkapnya, dan Kakek menggunakan tipu muslihatnya. Pertama berubah menjadi singa, lalu ular naga, lalu macan tutul, lalu babi hutan, lalu air dan terakhir pohon raksasa, namun kami terus menahannya.

“Akhirnya Proteus menyerah dan kembali ke wujud aslinya. Ia kemudian bertanya kepada, ‘Pangeran Atreus, dewa manakah yang telah mengajarimu cara menangkapku? Apa yang kau ingin dariku?’ Aku menjawab, ‘Tuan, aku dan anak buahku terjebak di pulau ini dan tidak bisa pulang. Kumohon katakanlah kepada kami, dewa manakah yang menahan perjalanan pulang kami, bagaiamana caranya agar kami dapat meneruskan perjalanan pulang?’ Kakek Penjaga Laut menjawab, ‘Kau seharusnya memberi persembahan kepada Jupiter sebelum berlayar pulang ke negerimu. Kembalilah ke sungai Aigyptios dan berikanlah persembahan untuk Jupiter dan dewa lainnya di sana, dan mereka akan menunjukkan jalan pulangmu.’

“Hatiku sangat menderita ketika ia menyuruhku kembali lagi ke Mesir dan memberi persembahan kepada Jupiter. Namun tidak ada yang bisa kulakukan, dan merintih pun tidak ada gunanya. Proteus kemudian berkata kepadaku:

“’Para dewa akan membawamu ke daratan Elysian di ujung bumi, di mana Rhadamathys tinggal. Negeri itu adalah tempat di mana manusia bisa menjalani hidup dengan; tidak ada salju, badai atau hujan, hanya angin Zephyros datang dari Laut memberikan kesegaran. Kau adalah suami Helen, para dewa menganggapmu bagian dari keluarga Jupiter.’ Setelah itu ia menghilang ke dalam laut.

“Aku dan tiga anak prajuritku segera kembali ke kapal. Keesokan paginya, setelah fajar menyingsing, yang pertama kami lakukan adalah menurunkan kapal ke laut, memasang tiang kapal dan menaikkan layar, dan melanjutkan perjalanan kembali. Aku kembali lagi ke sungai Aigyptios, dan memberi persembahan untuk Jupiter dan dewa lainnya yang menguasai alam semesta. Selesai melakukan semua itu, angin baik memandu perjalanan pulangku hingga akhirnya aku tiba di Sparta dengan selamat.”

Idomeneus, raja Crete, tiba di negerinya dengan selamat.

Namun sebuah peristiwa menyedihkan terjadi pada saat kepulangannya di Crete. Dalam perjalanan pulangnya dari Troy terjadi badai yang amat dahsyat, dan Idomeneus khawatir jika armadanya akan hancur. Ia kemudian bersumpah bahwa jika armadanya selamat, ia akan mempersembahkan manusia yang pertama kali ia lihat ketika mendarat kepada Neptune. Namun malangnya, manusia yang pertama kali ia lihat ketika mendarat adalah putranya, yang datang ke pantai karena ingin menyambut kepulangan ayahnya. Bagaimanapun juga, Idomeneus tidak mungkin melanggar sumpahnya kepada Neptune, dan Idomeneus mengorbankan putranya. Namun rakyat Crete sangat marah atas tindakan biadabnya, dan mereka mengusir Idomeneus dari Crete. Idomeneus diasingkan ke Calabria di Itali, dan kemudian ke Colophon di Asia Kecil, tempat di mana ia meninggal.

Ajax putra Oileus, raja Locris, mengalami nasib yang mengerikan seperti yang dialami Agamemnon. Pada malam kehancuran Troy, Ajax memperkosa putri kerajaan Troy, Cassandra, di kuil Minerva ketika ia sedang berlindung. Minerva kemudian menghukumnya. Ketika Ajax dalam perjalanan pulang, seperti pasukan Yunani yang lainnya, Minerva meminjam halilintar kepada Jupiter, dan setelah ia minta ijin kepada Neptune, ia menciptakan badai besar yang diringi halilintar, dan menghancurkan kapal Ajax. Ajax kemudian berenang untuk menyelamatkan diri, dan berhasil tiba di sebuah pulau. Namun ia malah merendahkan para dewa, yang mana tindakan demikian membangkitkan kemarahan Neptune. Neptune kemudian mengangkat sebuah batu karang dengan trisulanya, dan melemparkannya ke arah Ajax, yang mati dan tenggelam ke dasar laut seketika itu juga. Seandainya ia tidak merendahkan para dewa, tidak mustahil ia akan selamat dan pulang ke negerinya.

Nestor tiba dengan selamat di negerinya tanpa mengalami musibah dalam perjalanan pulangnya.
Ia menjalani kehidupannya dengan damai di kerajaannya di Pylos, meski kadang bersedih karena telah kehilangan putranya, Antilochus, yang dibunuh oleh Memnon.

Armada perang Diomede tersesat akibat badai dan tiba di pantai Lycia, di mana ia akan dikorbankan untuk dewa Ares oleh Lycus, raja negeri itu. Namun ia bernasib baik, karena putri Lycus, Callirrhoe, mengasihaninya dan membantunya meloloskan diri. Kemudian ia mendarat di Attica di Phaleron. Penduduk setempat tidak tahu jika armada Diomede adalah sekutu mereka dan menyerangnya. Prajurit Diomede banyak yang mati dan Palladium diambil oleh Demophon. Diomede dan armadanya akhirnya tiba di Argos, namun ternyata istrinya telah berselingkuh dan kerajaannya dikuasai oleh orang asing. Diomede kemudian meninggalkan Aetolia.

Diomede berkelana ke negeri-negeri asing, hingga akhirnya ia mendarat di Selatan Itali, dan membangun sebuah kota yang ia beri nama Argyripa, dan tidak lama kemudian menikah dengan putri Daunus, raja negeri itu.

Neoptolemus, atau Pyrrhus, putra Achilles, tiba dengan selamat di Phthia, di mana kakeknya, Peleus, masih hidup dan memerintah. Ia membawa Anromache janda Hector dan Helenus, satu-satunya putra Priam yang selamat setelah kotanya dibakar. Setelah kematian Pyrrhus, Andromache menikah dengan Helenus, yang kemudian bersahabat baik dengan Peleus; Helenus kemudian diberi kerajaan oleh Peleus di Epirus, dan Helenus menghabiskan sisa waktunya bersama Andromache di sana.

Philoctetes tiba dengan selamat di negerinya. Namun ia diusir dan berlayar ke Itali, dan mendirikan beberapa kota, Petilia, Crimissa dan Chone.

Teucer putra Telamon tiba dengan selamat di negerinya, namun ayahnya mengusirnya karena kematian Ajax. Teucer dihukum karena tidak membawa abu saudaranya atau baju perangnya. Ia mendirikan Salamis di Cyprus.

Namun tidak ada pahlawan Yunani yang mengalami banyak penderitaan dalam perjalanan pulang selain Ulysses. Ia harus mengembara dari satu negeri ke negeri lainnya selama sepuluh tahun sebelum tiba di negerinya dan disambut oleh istrinya yang setia, Penelope, dan oleh putranya yang telah dewasa, Telemachus, yang selalu menantikan kepulangan ayahnya.

Namun demikian, prajurit yang paling malang adalah Agamemnon, karena ia akhirnya dibunuh oleh istrinya sendiri, sebuah kematian yang tidak terhormat di masa itu. Agamemnon tentu lebih baik memilih mati di medan perang daripada di tangan istrinya sendiri, yang masih dendam karena pengorbanan Iphigenia.

Ketika Troy sudah rata dengan tanah, Agamemnon adalah komandan yang paling beruntung diantara para komandan lainnya yang terkena kemarahan dewa. Kapalnya selamat dari badai dahsyat, dan tiba di Mycenae membawa kemenangan dan kejayaan, sebagai penakluk Troy. Berita kepulangannya menyebar ke penjuru negeri, dan rakyatnya menyambut dengan suka cita. Sepertinya ia adalah raja yang paling beruntung, karena kedamaian dan kemakmura terbentang di hadapannya.

Namun diantara keramaian yang menyambut kedatangan sang raja terlihat wajah-wajah yang gelisah, dan kalimat tidak enak didengar keluar dari satu mulut ke mulut lainnya, “Tidak lama lagi Agamemnon akan binasa,” ucap salah seorang. “Segala sesuatu di istana, yang dahulu baik, akan berubah. Seandainya istananya bisa bicara dan mengatakan apa yang akan ia alami tidak lama lagi.”

Para sesepuh kota sudah berkumpul di depan istana untuk menyambut raja mereka. Sementara mereka menunggu rombongan Agamemnon, mereka berbicara tentang masa lalu dengan suara pelan. Usia mereka memang sudah lanjut, namun ingatan itu masih nyata. Mereka mengenang kembali peristiwa pengorbanan putri Agamemnon, Iphigenia. Ingatan itu masih jelas, seolah-olah mereka ada di Aulis. Agamemnon telah membunuhnya, putrinya sendiri. Namun bukan keinginannya mengorbankan putrinya sendiri, melainkan karena ketidaksabaran para prajuritnya yang ingin segera berlayar ke Troy. Bagaimanapun juga, masalahnya tidak mudah dan sesederhana yang dibayangkan. Para sesepuh menyadari bahwa Agamemnon tidak akan bisa menghindar dari kutukan yang dijatuhkan atas keluarganya.

Sepuluh tahun sudah berlalu semenjak kematian Iphigenia, namun dampak kematiannya masih terasa. Para sesepuh kerajaan adalah orang yang bijaksana dan menyadari bahwa setiap perbuatan dosa akan mendapat balasan setimpal. Momen menikmati kemenangan sedang dirasakan Agamemnon, namun ia tidak tahu jika ia juga sedang dibayangi kematian, dan para sesepuh itu berharap agar balasan itu tidak datang ketika Agamemnon sedang menikmati kemenangannya. Namun para sesepuh kerajaan juga menyadari, cepat atau lambat, Agamemnon akan mendapat ganjaran atas perbuatannya.

Bahkan hukuman terhadapnya sudah menanti semenjak ratu Clytemnestra kembali dari Aulis, di mana ia menyaksikan putrinya mati. Ia tak lagi setia kepada suaminya yang telah membunuh putrinya sendiri; Clytemnestra berselingkuh dan rakyat mengetahuinya. Clytemnestra juga tidak menyuruh kekasihnya pergi ketika suaminya pulang dan membawa kemenangan. Ia tetap di istana bersama sang ratu. Apa yang sedang direncanakan di belakang pintu istana? Ketika para sesepuh itu membayangkan dan takut, mereka mendengar suara kereta-kereta perang bergerak mendekat ke istana. Agamemnon telah tiba di halaman istana, membawa seorang gadis cantik namun berwajah aneh yang duduk di sampingnya, diikuti rakyat serta para pengawal. Ketika rombongan berhenti di tempat pemberhentian, pintu istana terbuka dan Clytemnestra berdiri untuk menyambut kedatangan suaminya.

Agamemnon tidak membalas sambutan istrinya dengan hangat, dan segera masuk ke dalam istana. Namun sebelum masuk ia memperkenalkan Clytemnestra kepada Cassandra, dan masuk ke dalam.

Setelah Agamemnon dan istrinya masuk dan pintu istana ditutup, suasana ramai menjadi sepi, karena kerumunan rakyat yang menyambut kepulangan sang raja membubarkan diri. Hanya para sesepuh kerajaan yang belum beranjak pergi. Kehadiran Cassandra menarik perhatian mereka dan para sesepuh menatap penuh tanya. Mereka telah mendengar keahlian Cassandra meramal masa depan, hanya saja tidak ada orang yang mempercayai ramalannya, meskipun ramalannya selalu terbukti benar di kemudian hari. Cassandra menatap mereka dan bertanta, “Negeri apakah ini,” tanya Cassandra, “dan istana siapakah ini?” Mereka menjawab bahwa istana yang ada di hadapannya adalah istana Agamemnon putra Atreus. Gadis itu berteriak histeris setelah mendengar nama Atreus. Cassandra mulai merintih dan menangis. Nampaknya ia sudah tahu apa yang akan terjadi.

Cassandra kemudian berteriak bahwa tidak lama lagi akan kematian akan mendatangi istana Agamemnon. “Aku akan mati di sini,” teriak Cassandra, dan ia berjalan menuju pintu istana. Para sesepuh coba menghentikan Cassandra, namun ia tidak memperdulikan mereka; ia masuk ke dalam dan pintu ditutup kembali dari dalam. Keheningan setelah Cassandra masuk ke dalam berubah menjadi kengerian yang tidak dibayangkan sebelumnya. Terdengar suara teriakan. Para sesepuh kini merasa ngeri sekaligus bingung. “Itu suara teriakan Agamemnon,” ucap salah satu sesepuh, “apa yang telah terjadi di dalam istana? Cepat masuk ke dalam!” Mereka saling menyuruh satu sama lain. Namun tidak lama kemudian semuanya menjadi jelas. Pintu istana terbuka, dan sang ratu terlihat berdiri di ambang pintu.

Ratu Clytemnestra sudah berlumuran darah, “Di istana ini terbaring mayat suamiku yang telah kubunuh dengan tanganku sendiri,” ucap Clytemnestra kepada para sesepuh kerajaan. Ternyata
darah yang melumuri wajah dan gaunnya adalah darah Agamemnon.

Clytemnestra merasa tidak perlu menjelaskan perbuatannya. Clytemnestra tidak merasa sebagai seorang pembunuh, melainkan seorang eksekutor. Ia telah menghukum seorang pembunuh, orang yang telah membunuh putrinya.

Sekarang tinggal Electra yang tersisa. Clytemnestra dan Aigisthus mengira bahwa Iphigenia telah mati dikorbankan, tidak tahu jika ternyata Diana membawa gadis malang pergi ke Taurica. Mereka juga tidak tahu di mana keberadaan putra Agamemnon, Orestes, dan Aigisthus pasti membunuhnya seandainya Orestes ada di istana saat itu. Aigisthus tidak membunuh Electra pada saat itu, namun ia hanya membuat hidupnya menderita. Electra sangat mengharapkan Orestes kembali, dan hanya itu satu-satunya harapan yang masih tersisa dan mampu membuatnya untuk bertahan. Namun akan seperti apa pembalasan itu? Haruskah Orestes membunuh ibunya sendiri? Namun bagaimanapun juga, Electra terus menanti kepulangannya untuk membalas dendam atas kematian ayah mereka.

Ketika Orestes dewasa, ia dapat melihat keadaan dengan jauh lebih jelas dibanding Electra. Seorang anak harus bisa menghukum pembunuh ayahnya. Jika tidak ia akan dianggap sebagai pengkhianat. Namun jika seorang anak membunuh ibunya sendiri, maka para dewa akan sangat membencinya. Orestes berada dalam pilihan yang sulit. Dalam keadaan bingung, ia memutuskan untuk pergi ke Delphi dan meminta bantuan orakel, dan dewa Apollo menyuruhnya membalas kematian ayahnya dengan kematian, darah dibayar dengan darah.

Sudah mantap dengan keputusannya, ia segera pergi ke Mycenae, menuju rumah yang sudah lama tidak dilihatnya semenjak kanak-kanak. Orestes mengajak sahabat karibnya, Pylades. Keduanya tumbuh dalam lingkungan yang sama, dan persahabatan yang terjalin antara keduanya melebihi sekedar persahabatan biasa. Electra tidak mengetahui kedatangan adiknya dan Pylades. Sisa hidupnya hanya ia jalani untuk menunggu kepulangan adiknya, berharap Orestes akan memberinya kehidupan baru.

Pada suatu hari ia berdoa di depan makam ayahnya, “Oh ayah, bimbinglah Orestes kembali ke istana.” Tiba-tiba ia ada di dekatnya, mengaku sebagai saudara laki-lakinya, memperlihatkan kepadanya jubah yang ia pakai sebagai bukti, hasil pekerjaan tangannya sendiri, yang ia berikan kepadanya ketika ia pergi. Namun ia tidak butuh bukti. Electra menangis, “Wajahmu adalah wajah ayahku.”

Orestes menyampaikan kepada Electra jawaban orakel di Delphi. Setelah itu ia pergi ke istana untuk membunuh Aigisthus dan Clytemnestra, dan menyuruh Electra menunggunya.

Sementara Orestes dan Pylades sedang pergi ke istana, Electra menunggu. Hal itu adalah bagian terpahit sepanjang hidupnya. Sebelum menemui sang ratu, seorang pengawal istana telah memberitahu kedatangan Orestes kepada sang ratu, “Penghianat! Tuan kita! Penghianat!” Budak itu berkata terengah-engah kepada Clytemnestra, “Orestes, ia masih hidup dan ia di sini.” Clytemnestra akhirnya tahu dan segalanya kini sudah jelas baginya, apa yang sudah terjadi dan apa yang akan terjadi. Clytemnestra kemudian meminta budak itu mengambilkannya kampak. Ia memutuskan untuk membela diri, namun kampak yang ia minta tidak juga datang, dan ia berubah pikiran. Orestes berjalan ke arah ibunya sambil membawa pedang yang berlumuran darah; darah di pedang itu adalah darah Aigisthus. Clytemnestra berkata, “Berhenti, anakku, dan lihatlah dadaku. Betapa seringnya kau terbaring di dada ini sewaktu kecil.” Orestes berteriak kepada Pylades, “Pylades, bolehkah aku mengampuninya dan membiarkannya hidup?” Pylades menjawab, “Tidak! Apollo telah memberimu perintah, dan kau harus mematuhinya!” “Baiklah,” ucap Orestes kepada sahabatnya, “aku akan mematuhi perintahnya.” Apa yang kemudian terjadi kiranya sudah dapat diketahui: Orestes telah membunuh ibunya sendiri!

Ketika ia keluar kembali dari dalam istana, orang-orang yang menunggu di halaman istana merasa tidak perlu bertanya tentang apa yang telah ia perbuat, dan mereka hanya memandangi Orestes, tuan mereka, dengan kasihan. Orestes sendiri sepertinya tidak melihat mereka; ia seperti melihat kengerian di belakang mereka.

Tidak kuat menahan rasa bersalah, Orestes mengembara dari negeri asing ke negeri asing lainnya, hingga setelah beberapa tahun lamanya, ia memutuskan kembali ke negerinya. “Penderitaan telah banyak mengajariku,” ucap Orestes, dan menyadari bahwa kesempatan untuk bertobat selalu terbuka meskipun kejahatan yang telah ia lakukan amatlah besar, membunuh ibunya sendiri.

Apollo menyuruhnya pergi ke kota Athena untuk mengakui kesalahannya di hadapan dewi Minerva, dan mereka yang ingin bertobat tidak boleh ditolak, dan lambat laun penderitaan yang dialami Orestes membuat jiwanya bersih kembali.

Sang dewi mendengarkan permohonannya. Apollo berada di sisi Orestes, dan ia berkata kepada Athena, “Akulah yang telah menyuruhnya untuk melakukan perbuatan keji itu,” Kemudian Orestes berkata, “Akulah yang bersalah, karena aku telah membunuh ibuku, bukan Apollo.” Kalimat semacam itu tidak pernah keluar dari mulut keluarga Atreus. Para pendahulu Orestes tidak pernah menderita akibat kesalahan mereka dan tidak pernah bertobat. Athena mengampuninya, namun ada satu persyaratan yang harus ia lakukan sebelum tobatnya diterima, yaitu pergi ke kuil Diana di Taurica dan membawa patungnya ke Athena.

Tugas itu amat berbahaya, sebab raja Taurica akan menghukum mati orang yang membuat keonaran di negerinya. Namun Orestes tetap akan menyelesaikan tugas itu untuk menebus kesalahannya karena telah membunuh ibunya sendiri. Ia kemudian pergi ke Turica, dan seperti biasanya, ia ditemani oleh Pylades, sahabat setianya.

Orestes menyiapkan segala perbekalan yang dibutuhkan. Mereka sengaja menambatkan kapal tidak terlalu dekat dengan bibir pantai, agar penguasa negeri itu tidak mengetahui kedatangan mereka. Nampaknya mereka mendapat panduan dari kekuatan gaib, karena mereka berhasil menemukan kuil Diana dengan mudah tanpa kesulitan yang berarti. “Pylades, apakah menurutmu ini adalah sebuah kuil, dan mungkinkah ini kuil dewi Diana?” “Ya,” jawab sahabatnya, “dan itu pastinya bekas tetesan darah setelah upacara pengorbanan.”

Orestes dan Pylades menunggu hingga malam tiba, karena tidak mungkin masuk ke dalam tanpa
terlihat pada siang hari.

Pada hari yang sama, ketika Iphigenia sedang menjalankan tugasnya, tiba-tiba datang beberapa pengawal kerajaan membawa pesan untuk Iphigenia. Thoas, raja negeri Taurica, mengabarkan bahwa ia baru saja menangkap dua pemuda dari Yunani dan menyuruh Iphigenia segera menyiapkan upacara pengorbanan untuk mereka. Setelah selesai membaca pesan dari sang raja, datang beberapa pengawal lainnya membawa masuk kedua pemuda Yunani yang akan dikorbankan.

Iphigenia segera menyuruh para pelayannya menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan untuk prosesi pengorbanan. Para pelayan segera menyiapkannya dan sambil menangis, Iphigenia kemudian menanyakan asal usul kedua pemuda Yunani itu. “Apa kalian bersaudara?”

“Ya,” jawab Orestes, “tapi kami bukan saudara kandung.”

“Lalu siapa nama kalian?” tanya Iphigenia

Orestes menjawab, “Mengapa kau menanyakan nama manusia yang sesaat lagi akan menghadapi kematian?”

“Apa kalian juga tidak akan mengatakan dari negeri mana kalian berasal?” tanya Iphigenia.

“Kami datang dari Mycenae,” jawab Orestes, “negeri yang dahulu makmur dan sejahtera.”

“Yang menjadi Raja negeri itu tentunya makmur,” ucap Iphigenia, “kalau tidak salah namanya adalah Agamemnon.”

“Aku tak mengenalnya,” jawab Orestes. “Mari kita akhiri saja percakapan kita.”

“Tidak, ceritakan kepadaku tentangnya,” pinta Iphigenia.

“Ia sudah mati,” jawab Orestes, “dibunuh oleh istrinya sendiri. Jangan lagi mengajukan pertanyaan kepadaku.”

“Satu hal lagi,” pinta Iphigenia menangis. “Apakah istrinya masih hidup?”

“Tidak,” jawab Orestes, “ia dibunuh oleh putranya.”

Ketiganya kemudian saling menatap satu sama lain.

Iphigenia berusaha mengingat kembali masa lalunya. Kemudian Iphigenia bertanya, “Apakah mereka pernah bicara tentang putrinya yang dikorbankan?”

“Hanya ketika orang bicara tentang kematian,” jawab Orestes. Wajah sang pendeta berubah, dan ia semakin ingin tahu.

“Apakah kau bersedia mengantarkan surat kepada sahabatku di Mycenae jika aku bisa menyelamatkanmu?” ucap Iphigenia.

“Tidak, jangan aku,” jawab Orestes. “Biarlah temanku yang melakukannya untukmu. Ia ikut bersamaku untuk membantuku. Berikan suratmu kepadanya dan bunuhlah aku.”

Iphigenia kemudian mengambil suratnya, namun Pylades tidak menyetujui rencana Orestes. “Aku tidak akan membiarkanmu mati di negeri ini. Oleh karena itu aku tidak akan meninggalkanmu.”

“Aku menyerahkan Electra agar kau menjaganya,” jawab Orestes. “Electra adalah istrimu. Aku sudah siap menghadapi kematian.”

Ketika keduanya selesai bercakap-cakap, Iphigenia datang membawa surat itu. “Aku akan mempengaruhi sang Raja. Ia akan membiarkan pembawa pesanku pergi.”

Iphigenia berpaling kepada Pylades, “Pertama-tama, aku akan mengatakan isi surat ini kepadamu agar ketika kau kehilangan surat ini kau dapat mengingat pesan yang ada dalam surat ini dan menyampaikannya kepada sahabatku.”

“Kepada siapa aku harus menyampaikan suratmu?”

“Kepada Orestes,” jawab Iphigenia, “putra Agamemnon.”

Iphigenia tidak mengamati dua pemuda yang sedang menatapnya serius.

“Katakan kepadanya bahwa surat ini berasal dari saudaranya yang dahulu dikorbankan di Aulis. Ia masih hidup.”

“Bisakah manusia yang sudah mati hidup kembali?” tanya Orestes sambil menangis..”

“Aku tidak bicara padamu,” ucap Iphigenia kepada Orestes agak marah.

Ia kembali berpaling kepada Pylades, “Kau bisa mengingat namanya?”

“Ya, dan tidak butuh waktu lama untuk mengantarkan suratmu.”

Pylades kemudian memberikan surat itu kepada Orestes.

“Dan aku menerimanya,” jawab Orestes, “dengan kebahagiaan yang tidak bisa kuungkapkan.”

Orestes memeluk kakaknya, tidak kuasa menahan kebahagiaannya. Namun Iphigenia melepaskan pelukannya, karena ia tidak mengenal dua pemuda itu.

“Beri aku bukti jika kau memang Orestes.”

“Apakah kau ingat sulaman terakhir yang kau kerjakan sebelum kau pergi ke Aulis?” tanya Orestes. “Apakah kau masih ingat kamar tidurmu? Baiklah, aku akan menggambarkannya kepadamu.”

Orestes berhasil meyakinkannya, dan sambil menangis terharu, Iphigenia memeluk adiknya. Pertemuan Iphigenia dengan Orestes begitu mengharukan dan menegangkan. Mengharukan karena baik Iphigenia maupun Orestes tidak pernah tahu jika pertemuan itu akan terjadi. Mengerikan karena Orestes sepertinya tidak bisa lari dari hukuman mati yang telah dijatuhkan kepadanya.

Apakah mereka memang ditakdirkan mati bersama di Taurica? Sepertinya Orestes tidak punya pilihan lain kecuali harus membunuh raja negeri itu agar bisa selamat dan membawa kembali Iphigenia ke Mycanae.

Namun Iphigenia menolak keinginan Orestes yang ingin membunuh sang raja, “Ia telah memperlakukanku dengan baik,” jawab Iphigenia, “ tidak mungkin aku tega melihatmu membunuhnya. Namun aku juga tidak mungkin menjalankan perintahnya untuk membunuhmu.”

Iphigenia kemudian mengajukan sebuah rencana kepada Orestes. Setelah membahas rencana itu, Orestes dan Pylades setuju. Iphigenia kemudian masuk ke dalam kuil untuk mengambil patung dewi Diana.

Setelah beberapa waktu Iphigenia keluar kembali sambil membawa sebuah patung di tangannya. Seorang laki-laki kemudian terlihat berjalan melewati pintu pagar kuil, Iphigenia berkata kepada laki-laki itu, “Oh Raja, berhentilah. Tetaplah di tempatmu.” Sang raja bertanya kepada Iphigenia tentang apa yang telah terjadi. Iphigenia menjawab bahwa dua laki-laki yang akan dikorbankan untuk sang dewi tidak suci. Mereka adalah manusia kotor karena telah membunuh ibu mereka, dan dewi Diana sangat marah.

“Aku akan membawa patung ini ke tepi laut untuk mensucikannya,” ucap Iphigenia kepada Raja Thoas. “Aku juga akan mensucikan dua pemuda itu. Hanya setelah itu pengorbanan bisa dilakukan. Semua itu harus kulakukan dalam suasana sunyi. Biarkan aku membawa dua pemuda itu dan mensucikan mereka, sementara itu umumkan kepada rakyat agar tidak ada yang menggangguku selama prosesi.”

“Lakukanlah seperti yang kau minta,” jawab Thoas. Thoas melihat prosesi pemurnian itu, Iphigenia berjalan memimpin, sementara Orestes dan Pylades jalan di belakangnya, dan para pelayan membawakan bejana untuk upacara. Kemudian Iphigenia berdoa dengan suara keras, “Oh dewi, kau seharusnya berada di tempat yang suci, karena dengan demikian kami akan hidup bahagia.”

Mereka tidak melihat kapal Orestes, dan rencana mereka sepertinya akan berjalan baik.

Tidak lama kemudian para pelayan meninggalkan Iphigenia sebelum tiba di laut. Tiba di tepi laut, ketiganya segera naik ke atas kapal Orestes. Semua awak kapal segera mendayung sekuat tenaga agar kapal cepat meninggalkan pelabuhan. Raja Thoas melihat mereka melarikan diri, namun ia tidak bisa mengejar mereka, karena kapal Orestes sudah sampai di tengah laut.

Orestes tidak hanya berhasil membawa patung dewi Diana dari Taurica ke kota Athena, namun ia juga berhasil membawa pulang Iphigenia, dan tentunya itu adalah kabar baik bagi Electra yang sedang menunggu kepulangan mereka dengan penuh cemas di Mycenae.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar